Berdasarkan prakiraan hujan dasarian (10 hari) BMKG pada minggu ke-2 hingga minggu ke-1 Juli 2017, curah hujan menurun dari kisaran menengah hingga rendah. Wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan bagian selatan Papua tampak berwarna kuning hingga cokelat tua yang menunjukkan curah hujan menengah hingga rendah.
Prakiraan curah hujan di tiga provinsi di Sumatera yang langganan terjadi Karhutla, seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan pada periode tersebut akan rendah di antara 20 hingga 50 milimeter per bulan.
BMKG: Kemarau Datang, Waspada Kebakaran Hutan!
Berdasarkan prakiraan BMKG, puncak musim kemarau pada 2017 umumnya terjadi pada bulan Juli, Agustus, dan September. Terjadi pergeseran puncak musim kemarau jika dibandingkan dengan data 1981-2010 yang biasanya terjadi mulai Juni, Juli, hingga Agustus.
BMKG memprakirakan kondisi kemarau di wilayah Indonesia pada tahun ini tidak akan sekering pada 2015. Namun, juga tidak akan sebasah pada 2016.
Ahli kebakaran hutan dan lahan, Bambang Hero, mengatakan bahwa banyak pihak mungkin berkata melakukan pencegahan. Akan tetapi, sejauh ini, wacana mitigasi tersebut hanya basa-basi saja. Banyak pihak justru "memberhalakan" alat-alat berat seperti penggunaan helikopter dan pesawat untuk melakukan "water bombing" saat terjadi Karhutla.
"Ini gara-gara mindset yang sudah terbentuk di kepala kita bahwa jika ada teknik modifikasi cuaca (TMC) dan water boombing dengan helikopter dan pesawat, kebakaran bisa ditanggulangi. Seolah-olah tanpa itu semua kita tidak bisa mengatasi Karhutla," ujarnya Bambang..
Menurut Bambang, pemerintah dan masyarakat harus menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk melakukan mitigasi. Salah satunya, menurut Bambang, adalah penggunaan water logger untuk mengetahui kondisi lahan sehingga bisa melakukan antisipasi sebelum kebakaran terjadi.
Untuk Navigasi Lengkap Silahkan Kunjungi Peta Situs
PASTE KODE IKLANMU DISINI

